10 January 2014

Kecewa

3:44 PM 0 Comments
Kecewa adalah perasaan yang manusiawi. Tetapi ia harus diperlakukan
dengan cara yang tepat agar ia tidak menggelincirkan kita ke jurang kenistaan
yang sangat gelap.

Rasulullah s.a.w mengajarkan, "Ada tiga perkara dimana tidak seorang pun
yang dapat terlepas darinya, iaitu prasangka, rasa sial dan dengki. Dan aku akan
memberikan jalan keluar bagimu dari semua itu, iaitu apabila timbul pada dirimu
prasangka, janganlah dinyatakan, dan bila timbul di hatimu rasa kecewa, jangan cepat
dienyahkan, dan bila timbul di hatimu dengki, janganlah diperturutkan."

Kekecewaan memang pahit. Orang sering tidak tahan menanggung rasa
kecewa. Mereka berusaha membuang jauh-jauh sumber kekecewaaan. Mereka
berusaha memendam dalam-dalam atau segera menutupi rapat-rapat dengan
menjauh dari sumber kekecewaan. Mereka menekan rasa kecewanya. Repress,
istilah psikologinya. Sekilas tampak tak ada masalah, tetapi setiap saat berada
dalam kondisi rawan. Perasaan itu mudah bangkit lagi dengan rasa sakir
yang lebih perih. Dan yang demikian ini tidak dikehendaki Islam.

Islam menghendaki kekecewaan itu menghilang pelan-pelan secara
wajar, sehingga kita boleh mengambil jarak dari sumber kekecewaan sehingga
tidak kehilangan obyektivitas(objectivity) dan kejernihan hati. Kalau kita boleh
mengambil jarak, kita tidak lingsem, terjatuh dalam subyektivisme yang tajam.
Kita menjadi lebih tegar, meskipun proses yang diperlukan untuk menghapus
kekecewaan lebih lama daripada merepress.

Kalau Anda ternyata mengalami rasa kecewa, periksalah niat-niat Anda.
Di balik yang Anda anggap baik, mungkin ada niat-niat yang tidak lurus.
Periksalah motif-motif yang melintas-lintas dalam batin Anda selama
peminangan hingga saat-saat menunggu jawapan. Kemudian biarkan hati Anda
berproses secara wajar sampai menemukan kembali ketenangannya secara
mantap.

(Kupinang Dikau dengan Hamdalah)